Djaduk Ferianto Meninggalkan Dunia Seni Untuk Selamanya

Seniman multitalenta Djaduk Ferdianto meninggal dunia hari Rabu (13/11/2019) pukul 02.00 WIB. Hal tersebut dikabarkan langsung oleh Butet Kertaradjasa melalui media sosial instagram. Butet sendiri merupakan kakak dari Djaduk yang juga seorang seniman. Kabar meninggalnya Djaduk tentu membuat pecinta seni turut merasakan sedih. Pasalnya selama ini anak bungsu dari Bagong Kussudiardjo itu dikenal sebagai seniman yang memiliki banyak karya baik dari dunia seni musik, film, maupun teater.

Menjadi seorang seniman terkenal, kehidupan Djaduk tak lepas dari peran di lingkungan keluarganya yang terkenal ‘nyeni’. Apalagi kota kelahirannya yakni Yogyakarta dikenal sebagai kota yang melahirkan banyak seniman-seniman hebat. Ayah dari pria yang bernama lengkap RM Gregorius Djaduk Ferianto sendiri adalah seniman tari dan pelukis legendaris Indonesia. Sementara kakaknya, Butet Kertaradjasa juga merupakan seorang seniman yang kerap tampil dalam acara tv.

Pada tahun 1995 Djaduk, Butet, dan Purwanto mendirikan sebuah kelompok kesenian bernama Kua Etnika yang begitu terkenal. Kua Etnika sendiri mengusung jenis musik etnik Indonesia dengan pendekatan modern. Bersama grup musik tersebut, Djaduk telah melahirkan beberapa karya seperti Orkes Sumpeg Nang Ning Nong (1997) dan Ritus Swara (2000). Selain itu, Djaduk pernah mendirikan Orkes Sinten Remen yang mengolah musik keroncong ditahun 1997. Kemudian Tahun 2015 lalu Djaduk juga memiliki wadah baru dalam berkesenian bernama ‘Ring of Fire’ yang memadukan musik keroncong dengan jazz. Disela-sela kesibukannya, Djaduk sering menggarap musik untuk berbagai film, sinetron, dan bahka jingle iklan. 

Pria yang memiliki 5 anak itu juga tak terlepas dari seni gerak seperti teater dan film. Ia pun pernah membintangi beberapa judul film seperti Petualangan Sherina (2000), Koper (2006), Jagad X Code (2009), dan Cewek Saweran (2011). Ia pun juga beberapa kali menjadi sutradara untuk beberapa teater, selain teater Gandrik. 

Sebagai seorang seniman yang menelurkan banyak karya, Djaduk pernah mendapatkan beberapa penghargaan seperti Pemusik Kreatif (1996), Piala Vidia Sebagai Penata Musik Terbaik (1995), dan Grand Prize (2000) dari Unesco.

Kabar terakhir, Djaduk akan mengisi acara Ngayogjazz pada Sabtu (16/11/2019). Namun, hal tersebut gagal karena Tuhan telah memanggil sang seniman untuk pergi selama-lamanya. Menurut sang kakak, Djaduk memang memiliki riwayat jantung dan darah tinggi. Bahkan penyakit jantungnya pun seharusnya sudah mendapat penanganan yang serius dan harus dipasang ring. Tetapi hal tersebut belum juga terlaksana hingga ia tutup usia.

Djaduk meninggal di usia 55 tahun. Ia pun meninggalkan satu istri dan 5 anak. Kabarnya Djaduk akan disemayamkan di rumah duka Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo hari ini pada pukul 14.00. Kemudian pukul 15.00 ia akan dikebumikan di makam Keluarga Sembungan, Kasihan, Bantul.

Baca Ini Juga Yuk!
Ditolak Playboy, Rezky Adhitya Awalnya Ditolak Keluarga Citra Kirana 
Vanessa Angel Bikin QnA, Netizen: Semakin Merajalela