Tolak Anugerah Kebudayaan, Eka Kurniawan Jadi Perbincangan

Eka Kurniawan merupakan seorang novelis yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Eka Kurniawan menolak penghargaan tersebut, lantaran ia menilai Negara belum serius menghargai kerja-kerja seni dan kebudayaan, dan menolak penghargaan yang diberikan kemendikbud kepadanya.

Sikap yang ia sampaikan secara terbuka tersebut melalui akun Facebook pribadinya, dilandasi oleh sejumlah alasan yang kuat. Salah satunya karena ia menganggap jika pemerintah tak sungguh-sungguh memberi apresiasi kepada pekerja sastra dan seni serta pegiat kebudayaan secara umum. Ketidakseriusan Negara dalam mengapresiasi kerja-kerja seni dan kebudayaan, kata Eka pertama-tama terlihat dari kontrasnya hasiah yang ia terima dengan para atlet atau olahragawan yang memenangi olimpiade.

Para penerima anugerah dari Kemendikbud tersebut hanya akan mendapatkan pin dan uang Rp50 juta –yang dipotong pajak. Sementara peraih emas dalam Asean Games, misalnya, memperoleh Rp1,5 miliar dan peraih perunggu memperoleh Rp250 juta. Beberapa waktu, tulis Eka, sejumlah toko buku kecil digeruduk dan buku-buku dirampas oleh aparat. Tapi negara abai dan tak pernah turun tangan untuk menghentikan tindakan “anti-intelektualitas” tersebut. Padahal, kejadian itu bukan yang pertama dan kemungkinan akan terus terjadi di masa mendatang. Negara juga dinilai mangkir dalam melindungi industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, yang menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku.

Lantaran hal itu, Eka membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud untuk menegaskan dirinya tak akan datang malam penganugerahan dan menolak penghargaan yang diberikan kepadanya.