Penjelasan Bilal Jumat, Tarawih Witir dan Dasarnya

Bilal Jum’at atau muroqqi atau seseorang yang berharap perhatian jama’ah jum’at supaya memperhatikan khutbah sekaligus mengatur prosesi khotbah jum’at, tidaklah tergolong bid’ah. Mengapa? Karena hal itu pernah ditunaikan oleh Rasulullah Saw.

Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi didalam kitab Tanwirul Qulub berkata, “Menjadikan seorang muraqqi atau bilal pada shalat Jum’at baru ditunaikan pasca abad pertama hijriyah. Namun sebetulnya Rasulullah Saw pernah menyuruh seseorang untuk berharap perhatian orang banyak supaya memperhatikan khutbah beliau di Mina kala haji Wada’.

Inilah sebetulnya hakikat dari muraqqi itu. Sehingga pelaksanaannya sama sekali tidak bisa digolongkan sebagai bid’ah, gara-gara didalam penyebutan ayat (yang artinya): “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya membaca shalawat kepada Nabi”, terkandung peringatan dan impuls untuk senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Saw pada hari yang agung ini, yang sebetulnya sangat direkomendasikan membaca shalawat.

Dan didalam pembacaan hadits riwayat Imam Muslim dan lainnya setelah adzan: “Apabila anda berkata-kata kepada temanmu, padahal imam sedang berkhutbah, maka sungguh sia-sia Jum’at-mu”.

Hadits ini memberi peringatan kepada orang mukallaf untuk menghindari perkataan yang haram ataupun perkataan yang makruh sepanjang khutbah. Nabi Saw mengucapkan hadits ini kala beliau memberikan khutbah di atas mimbar. Hadits berikut adalah shahih. As-Syibramalisi mengatakan, boleh jadi Nabi SAW mengeluarakan hadits itu pada awal khutbah gara-gara memiliki kandungan perintah untuk diam dan tenang memperhatikan khutbah.”.

Sesuai bersama dengan perkataan Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi ini, maka yang direkomendasikan untuk dibaca bilal adalah hadits yang terkait bersama dengan peringatan itu. Misalnya sabda Rasulullah Saw. Berikut adalah bacaan doa nya:

رُوِيَ عَنُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْه أَنَّهُ قَال قَالَ رَسُولُ اللِه صَلّيَ اللهَ عَلَيهِ وَسَلَم إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الُجمعَةِ أَنْصِتْ وَالإمَامُ يَخطُبُ فَقَدْ لَغَوت.

Artinya : “Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Apabila engkau katakan kepada temanmu pada hari Jum’at (kata) “diamlah” sewaktu imam memberikan khutbah, maka sebetulnya hilanglah pahala jum’atmu.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, tidak tersedia alasan untuk membid’ahkan kelakuan ini. Bilal Jum’at itu tidak dilarang didalam agama gara-gara tersedia tujuan terpuji di balik pelaksanaannya. Dan Rasulullah Saw terhitung pernah melaksanakannya.

Sedangkan tatacara Bilal Jum’at, di tiap tiap area atau desa kebanyakan mempunyai tatacara yang berbeda-beda. Di antaranya tersedia yang Mengenakan langkah sebagai berikut:

Pertama, acara di awali oleh bilal. Posisi bilal berada di dekat mimbar mempunyai tongkat menghadap ke jama’ah, seraya membaca bacaan seperti berikut ini :
مَعَاشِرَ الُمسْلِمِين وَزُمْرَةَ المُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ الله, رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْه, أَنَّهُ قَال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلْ: إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الُجمعَةِ أَنْصِتْ وَالإمَامُ يَخطُبُ فَقَدْ لَغَوت, (أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ الله. X۲) أَنْصِتُوا وَاسْمعُوا وَأطِيْعُوْا لَعَلَكُمْ تُرْحمَون.

Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, lalu bilal menghadap qiblat, sedang khotib terjadi menghampiri bilal berharap tongkat yang di bawah bilal, tetap di bawah menuju mimbar bersama dengan di iringi bacaan sholawat tiga kali oleh bilal, seperti di bawah ini :

اَللَهُمّ صَلِّ عَلَي سَيّدِنَا مُحمّدٍ, اَللَهُمّ صَلِّ عَلَي سَيّدِنَا مُحمّدٍ, اَللَهُمّ صَلِّ عَلَي سَيّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحمّدٍ وَعَلَي أَلِ سَيّدِنَا مُحمَدٍ.

Kedua, sampai di atas mimbar, khotib berdiri menghadap jama’ah, sementara bilal meneruskan membaca do’a berikut ini :

اللَّهُمَّ قَوِّ الْاِسْلامَ, مِنَ المُسْلِمِينَ وَالُمسْلِمَات, والمُؤْمِنِين وَالُمؤْمِنَات, وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِ الِدّيْنِ وَاخْتِمْ لَنَا بِالخَيْر, ويَا خَيْرَ النَّاصِرِينَ برَحْمَتِكَ يااَرْحَمَ الرَاِحِمين.

Ketiga, setelah selesai do’a di atas, khotib langsung mengucapkan salam kepada jama’ah, lalu duduk. Kemudian bilal sholat tarawih dan witir mengumandangkan Adzan. Selesai adzan, bilal tetap duduk, sedang khatib tetap berdiri dan mengawali khutbah pertamanya.

Keempat, selesai khotbah pertama, bilal melantunkan sholawat yang biasa dibaca satu diantara dua khutbah, sekiranya seperti berikut ini :

أَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ، وَزِدْ وَاَتِمْ وَتَفَضَّلْ وَبَارِكْ، بِجَلاَلِكَ وَكَمَالِكَ عَلَى زَيْنِ عِبَادِكْ، وَأَشْرَفِ عِبَادِكَ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَإِمَامِ طَيْبَةَ وَالْحَرَامْ، وَمَنْبَعِ الْعِلْمِ وَالْحِلْمِ وَالْحِكْمَةِ وَالْحِكَمْ, أَبِي الْقَاسِمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وأَلِهِ وَسَلَّمَ، وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

Kelima, selesai bacaan sholawat tersebut, khotib berdiri dan mengawali khotbahnya yang kedua.
Keenam, selesai khotbah yang kedua, bilal langsung Iqomah.

3 thoughts on “Penjelasan Bilal Jumat, Tarawih Witir dan Dasarnya

  • August 20, 2019 at 12:46 am
    Permalink

    [url=http://retina.run/]buy retinol online without prescription[/url] [url=http://acyclovir.institute/]acyclovir[/url] [url=http://citalopram.us.org/]site[/url] [url=http://umransociety.org/]trazodone online[/url]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *